Tahun 1975 pengunjung mulai banyak. Penduduk mulai beralih
mata pencaharian. Mereka membuka warung di tepi pantai, menjual kelapa muda,
menjual bakso, dan menjual beraneka ragam barang. Sekarang banyak yang mendirikan
rumah dengan 6 atau 8 kamar tidur dan disewakan kepada pengunjung, turis
domestik atau turis asing.
Penghasilan karena tumbuhnya pariwisata menjadi berlipat
ganda. Yang punya bendi menyewakan bendinya. Yang lain membuka warung makanan
dan minuman, menyewakan penginapan, dan menjadi pedagang kaki lima. Pada waktu
ini jumlah penginapan 256 buah dan pedagang kaki lima 250 orang.
Perubahan hidup yang terjadi di pantai parangtritis sesuai
dengan dinamika masyarakat. Sayang sekali kesadaran akan arti wisata dalam arti
luas masih sangat terbatas. Pikiran penduduk tertuju kepada pemberian jasa dan
kemungkinan mendapat uang dengan mudah. Kesadaran untuk menciptakan lingkungan
yang baik, bersih, dan menarik belum ada. Itu sebabnya parangtritis yang
sebenarnya cukup luas daerahnya terkesan sumpek, panas, dan kotor. Usaha ke rah
penghijauan pun kurang.
Mungkin perlu penerangan dari pihak-pihak yang berwenang
untuk membuat penduduk sadar. Uluran tangan dari pemerintah daerah setempat pun
rasanya diperlukan.
Sumber : kompas, jakarta, 27 desember 1992
Tidak ada komentar:
Posting Komentar