Kamis, 03 Juli 2014

Pantai parangtritis

Tanah daerah parangtritis kurang subur. Oleh sebab itu, penduduk tidak menyandarkan hidupnya pada pertanian. Sebagian diantara mereka mem-buat garam. Itu pun tidak secara besar-besaran. Umumnya hanya untuk dipakai sendiri. Sisanya dijual ke pasar atau ditukar dengan beras.

Tahun 1975 pengunjung mulai banyak. Penduduk mulai beralih mata pencaharian. Mereka membuka warung di tepi pantai, menjual kelapa muda, menjual bakso, dan menjual beraneka ragam barang. Sekarang banyak yang mendirikan rumah dengan 6 atau 8 kamar tidur dan disewakan kepada pengunjung, turis domestik atau turis asing.

Penghasilan karena tumbuhnya pariwisata menjadi berlipat ganda. Yang punya bendi menyewakan bendinya. Yang lain membuka warung makanan dan minuman, menyewakan penginapan, dan menjadi pedagang kaki lima. Pada waktu ini jumlah penginapan 256 buah dan pedagang kaki lima 250 orang.

Perubahan hidup yang terjadi di pantai parangtritis sesuai dengan dinamika masyarakat. Sayang sekali kesadaran akan arti wisata dalam arti luas masih sangat terbatas. Pikiran penduduk tertuju kepada pemberian jasa dan kemungkinan mendapat uang dengan mudah. Kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang baik, bersih, dan menarik belum ada. Itu sebabnya parangtritis yang sebenarnya cukup luas daerahnya terkesan sumpek, panas, dan kotor. Usaha ke rah penghijauan pun kurang.

Mungkin perlu penerangan dari pihak-pihak yang berwenang untuk membuat penduduk sadar. Uluran tangan dari pemerintah daerah setempat pun rasanya diperlukan.

Sumber : kompas, jakarta, 27 desember 1992

Tidak ada komentar:

Posting Komentar