Senin, 07 Desember 2015

Laporan Penelitian

A.     Pengertian Laporan
Laporan ialah suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan, atau gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu karangan. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah. Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.
B.     Jenis-Jenis Laporan (formal & informal)
1)  Laporan Formal
adalah laporan yang ditulis secara ilmiah, yaitu sebagai hasil peneliti.Biasanya isinya singkat tetapi padat dan sistematis serta logis. Laporan formal bersifat impersonal dan materinya disajikan dalam suatu pola struktur.
Laporan formal terdiri dari :
Bagian Pendahuluan
Halaman judul
Halaman pengesahan (jika perlu)
Halaman motto / semboyan (jika perlu)
Halaman persembahan (jika perlu)
Kata pengantar
Daftar isi
Daftar tabel (jika ada)
Daftar gambar (jika ada)
Daftar grafik (jika ada)
Abstrak
Bagian Isi
Bab I : Pendahuluan
1.1   Latar belakang
1.2   Identifikasi masalah
1.3   Pembatasan masalah / ruang lingkup penelitian
1.4   Rumusan masalah
1.5   Tujuan dan manfaat
Bab II  : Kajian pustaka
Bab III : Metode penelitian
Bab IV : Pembahasan
Bab V  : Penutup
Bagian Penutup
Daftar pustaka
Daftar lampiran
Indeks atau daftar istilah
2) Laporan Informal
adalah laporan yang ditulis secara popular, yaitu menggunakan kata–kata sederhana, kadang–kadang diselingi dengan kalimat humor/lucu, yaitu laporan yang tidak memenuhi beberapa unsur formal. Laporan ini bersifat pribadi yang disesuaikan dengan kepentingan penulisannya.Laporan Informal terdiri dari :
Laporan kunjungan, berisi :
Judul laporan
Tujuan
Waktu pelaksanaan
Hasil yang diperoleh
Laporan percobaan, berisi :
Judul percobaan
Pelaksanaan
Urusan kerja
Data yang diperoleh
Kesimpulan
Laporan  diskusi, berisi :
Topik
Moderator
Penyaji
Jumlah peserta
Masalah yang dibicarakan
Pemecahan masalah
Kesimpulan
C.     Unsur- unsur dalam Menyusun Laporan
Beberapa penulis (turk & kirkman, 1982, britowidjoyo,1985: arifin, 1987;indriati,2001), mengemukan bahwa unsur-unsur dari laporan penelitian  adalah:
1. Judul tulisan
2. Abstrak
3. Pendahuluan
4. Bahan dan metode penelitian
5. Hasil
6. Pembahasan
7. Simpulan dan saran
8. Daftar pustaka
Namun secara lebih lengkap, laporan penelitian terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu:
1. Bagian pembuka.
2. Bagian inti.
3. Bagian penutup.
D.     Contoh Laporan Penelitian
Kata pengantar
Assallamu’allaikumWr.Wb
Alamdullilahirabbil’alamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit selai yang kita ingat. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam atas segala berkat, rahmat, taufik, dan hidayahnya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ Dampak Ketergantungan Narkoba Bagi Pelajar Tingkat SMA “
 Dalam penyusunnya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar – besarnya kepada Ibu Eni PrasetyaningrumS.Pd yang telah memebrikan dukungan, ibu guru yang telah memberikan bimbingan, dan teman teman yang telah memberi dukungan.
 Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih biak lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
                                                          
Jakarta, 5 Desember 2015
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Kini banyak terdengar dan terlihat di televisi, Social media, kabar berita, banyak berita tentang narkoba, lebih jelasnya, tentang dampak ketergantungan narkoba bagi pelajar. Narkoba yang banyak disalahgunakan bagi pelajar, hanya ingin terlihat lebih jantan, namun pada pengguna tidak mengetahui dampak dari ketergantungan narkoba yang akan berakibat fatal. Para pengguna banyak jatuh miskin karena penghasilannya digunakan untuk membeli narkoba. Bukan hanya harganya yang mahal, narkoba juga mengandung zat – zat yang berbahaya jika tidak sesuai dengan dosis dokter.
B.  Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat disimpulkan yaitu apa dampak ketergantungan narkoba bagi pelajar.
C.  Tujuan penelitian
Dari penelitian ini, pembaca akan mengetahui dampak ketergantungan narkoba khususnya bagi para pelajar.
D.  Manfaat dilakukan penelitian
a.    Untuk mengetahui berapa banyak pelajar yang mengonsumsi narkoba.
b.    Lebih tahu dampak penggunaan narkoba.
c.    Mengajarkan kita hidup sehat dengan tidak mengonsumsi narkoba.
E.   Hipotesis
Daya tahan tubuh yang mengurang dan tingkat kesadaran yang mengurang mungkin salah satu dari dampak ketergantungan narkoba bagi pelajar.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. Narkoba
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.
Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.
B. Pelajar
Pelajar adalah istilah lain yang digunakan bagi peserta didik yang mengikuti pendidikan formal tingkat dasar maupun pendidikan formal tingkat menengah.
C.  SMA
Sekolah menengah atas (disingkat SMA; bahasa Inggris: Senior High School), adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat). Sekolah menengah atas ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.
Pada tahun kedua (yakni kelas 11), siswa SMA dapat memilih salah satu dari 3 jurusan yang ada, yaitu Sains, Sosial, dan Bahasa. Pada akhir tahun ketiga (yakni kelas 12), siswa diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan SMA dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja.
Pelajar SMA umumnya berusia 16-18 tahun. SMA tidak termasuk program wajib belajar pemerintah - yakni SD (atau sederajat) 6 tahun dan SMP (atau sederajat) 3 tahun - maskipun sejak tahun 2005 telah mulai diberlakukan program wajib belajar 12 tahun yang mengikut sertakan SMA di beberapa daerah, contohnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.
BAB III
METODOLGI PENELITIAN
A.    PEMILIHAN OBJEK
Objek dalam penelitian ini adalah Para pelajar SMA di Indonesia dan dampaknya.
B.     TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang kami pakai adalah metode deskriptif.
BAB IV
PELAKSANAAN PENELITIAN
Kalangan pelajar dianggap masih rentan terkena dampak peredaran narkoba. Pelajar juga termasuk dalam empat besar pemakai narkoba di Jakarta. Rentannya narkoba masuk ke kalangan pelajar diduga karena faktor pergaulan. Demikian disampaikan Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Nugroho Aji Wijayanto, Selasa (1/11/2011), di Mapolda Metro Jaya. "Pelajar termasuk empat besar pengguna narkoba," ujarnya. Berdasarkan data Polda Metro Jaya, jumlah pemakai narkoba dilihat dari pekerjaannya, yakni penganggur (65 persen), pegawai swasta (20 persen), pedagang (10 persen), dan pelajar (4 persen). Sementara jumlah pengguna narkoba di Jakarta mencapai 280.000 jiwa. Nugroho mengatakan, jumlah pemakai dari kalangan narkoba memang baru menempati peringkat keempat.Namun, hal itu tetap saja perlu diwaspadai. Menurutnya, rata-rata para pelajar ini mengonsumsi narkoba karena faktor pergaulan. "Ada yang merasa hebat kalau pakai narkoba, ada yang pakai karena ikut-ikutan. Kebanyakan karena diajak teman, ini yang perlu diwaspadai," tutur Nugroho.Para pelajar ini paling banyak mengonsumsi ganja dan ekstasi. "Ganja paling banyak karena harganya murah dan terjangkau para pelajar," tutur Nugroho.Petugas Humas Badan Narkotika Nasional, Sumirat, mengatakan, akses pelajar terhadap narkoba semakin dekat. Pasalnya, mereka sangat mudah diajak untuk mengonsumsi narkoba. Para pengedar pun melancarkan pendekatan yang cerdik"Mereka tahu untuk meraih pasar pelajar, mereka perlu dekati dulu salah satu anggota gengnya. Nanti yang lain akan diajak oleh temannya itu. Pelajar enggak akan mau konsumsi kalau bukan dari yang dikenal," kata Sumirat.Karena masih dalam pencarian jati diri dan ketakutan akan ditolak dari kelompoknya, akhirnya para remaja ini pun mau mengonsumsi narkoba. "Mereka takut tidak diakui kelompoknya," ucap Sumirat. Sumirat menambahkan, di BNN ada tiga langkah strategis yang dilakukan dalam upaya memerangi narkoba. Tiga langkah itu yakni dengan melakukan edukasi dan sosialisasi di tataran pencegahan, menerapkan sistem wajib lapor terhadap pengguna narkoba supaya bisa melakukan rehabilitas, dan mengungkap sindikat narkoba. "Ini yang tidak bisa dipisah satu per satu, semuanya harus sejalan dan dilaksanakan bersama," paparnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  KESIMPULAN
Masih banyak pelajar di Indonesia yang belum mengerti dan ada pula yang meremehkan ancaman dampak dari penyalahgunaan narkoba, sehingga banyak yang terjerumus kedalamnya. Padahal, dampak yang dialami sangat berbahaya bagi kondisi fisik maupun psikis para pemakainya, bahkan bisa menyebabkan kematian.
B.   SARAN
Untuk mengurangi banyaknya pengguna narkoba di kalangan pelajar, maka harus digalakan program anti narkoba di Indonesia.
SUMBER :
waslus.blogspot.com/2014/05/contoh-laporan-penelitian-sosial.html?m=1
https://anisamugni.wordpress.com/2013/05/30/pengertian-laporanlaporan-adalah-suatu-bentuk-penyajian-fakta-tentang/
http://seputarpengertian.blogspot.co.id/2015/02/seputar-pengertian-laporan.html





Rabu, 18 November 2015

5 Kiat Wirausaha Sukses Bagi Pemula

Siapa yang tidak mau menjadi seorang wirausaha sukses? Tentu saja semua tertarik dan menginginkannya. Tetapi, masalah yang selalu muncul adalah sedikit orang yang berani memulai. Kemudian, sebagian besar lebih menggantungkan hidupnya pada bekerja di sebuah perusahaan. Situasi tersebut memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Karena bagaimanapun juga bekerja di perusahaan lebih mempunyai penghasilan tetap dibandingkan dengan bisnis.
Kendati demikian, geliat dunia bisnis terus tumbuh dan bisa diandalkan karena hasilnya yang sangat melimpah. Seorang pengusaha sukses penghasilannya bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat dibandingkan pegawai. Tetapi, masalahnya adalah bagaimana cara menjadi pengusaha sukses? Anda tidak perlu sulit mencari jawabannya, karena di bawah ini saya hadirkan kiat wirausaha sukses yang cocok untuk para pemula. Berikut tips dahsyatnya,
Mengenal, mengenal, dan mengenal
Jangan memulai bisnis yang hanya terlihat seksi dan kemudian menawarkan keuntungan besar. Sebagai contoh, ada seorang pengusaha ruko yang memulai bisnis forex, dan kemudian rugi ratusan juta rupiah. Ternyata dia tidak mengetahui apa itu forex. Dia hanya mengetahui forex bisa mendatangkan uang dengan cepat melalui penanaman modal kepada seorang broker. Akibatnya bisa ditebak, Ia rugi besar.
Kenali bisnis Anda, dan kalau Anda belum kenal, maka belajarlah dengan sungguh-sungguh.
Fokus, fokus, dan fokus
Banyak pengusaha pemula yang ingin sukses dengan cepat. Alhasil, ia sangat mudah bergerak dan melompat antara satu bidang bisnis ke bidang bisnis lainnya. Ketika menemukan kesuksesan bisnis properti, mereka tertarik untuk memulainya. Padahal, mereka masih menjalankan sebuah bisnis perikanan. Tidak fokus menyebabkan Anda tidak akan mendapatkan apa-apa.
Fokuslah pada satu bidang bisnis, dan kemudian baru beralih ke bisnis lainnya. Dengan fokus, Anda akan mendapatkan percepatan bisnis. Misalnya, kita ingin memulai bisnis donat, ketika kita fokus membesarkan bisnis tersebut setiap hari, maka bisnis donat yang biasanya sukses dalam jangka waktu 5 tahun, bisa kita potong menjadi 2 tahun saja.
Hemat, hemat, dan hemat
Lupakan kantor mewah, penghasilan besar, atau baju berdasi. Anda masih memulai, jadi jangan sombong dengan menganggap diri Anda bos. Anda adalah karyawan yang masih merintis sebuah bisnis. Berhematlah, makanlah seadanya, belilah kendaraan seperlunya, dan jadilah orang susah. Banyak pengusaha pemula yang tidak bisa mengatur keuangan karena hanya ingin tampak keren. Kemudian, lama-kelamaan biaya hidupnya semakin besar bahkan mengalahkan keuntungan bisnisnya setiap bulan. Kalau hal itu terjadi pada Anda, bersiaplah menerima kebangkrutan.
Jual, jual, dan jual
Kita sering malas menawarkan produk kepada orang hanya karena bajunya lusuh, rambutnya acak-acakan, atau wajahnya tampak susah. Anda tidak boleh meremehkan seseorang, setiap orang mempunyai potensi, dan mereka bisa menjadi konsumen kita.
Anda tentu mengenal bob sadino dengan celana super pendek, kemeja sederhana, dan sandal seadanya. Kalau Anda belum mengetahui siapa bob sadino, apakah Anda akan berani menawarkan produk mahal kepadanya? Sebagian besar dari kita mungkin menjawab tidak. Sekali lagi, pepatah don’t judge the book by the cover itu berlaku dalam bisnis.
Gagal, bangkit lagi, gagal lagi, kemudian bangkit lagi
Seorang mentor pernah mengatakan bahwa dari 100 % penawaran, hanya 20% yang lolos untuk menjadi konsumen. Ada banyak pengusaha muda yang merasa dirinya gagal karena tawaran produknya tidak kunjung diterima.
Kalau Anda menyerah, lihat ke belakang. Berapa modal yang sudah Anda habiskan, berapa banyak pengorbanan waktu yang telah Anda luangkan, dan berapa besar harapan orang di sekeliling Anda untuk melihat Anda sukses? Percayalah, semua pengusaha pernah gagal, tetapi mereka bangkit, kemudian gagal, dan mereka bangkit lagi. Hingga berhasil. Anda pasti bisa!!
sumber :


Cara Penulisan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

Huruf Kapital
1.            Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
2.            Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
3.            Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan
4.            Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
5.            Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.
6.            kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.
7.             Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.
8.            Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
9.            Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.
10.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi.
11.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.
12.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
13.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di,
14.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri.
15.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.
16.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.
17.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu.
Huruf Miring 
1.            Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Catatan: Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik. 
     2.  Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian        kata, kata, atau kelompok kata. 
    3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa    Indonesia. Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia.
Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring digarisbawahi.
Huruf Tebal
1.            Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.
2.            Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring.
3.            Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.
Catatan: Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah ganda.
Mengenai Penulisan Kata
Berikut adalah ringkasan pedoman umum penulisan kata :
1.      Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Contoh: Ibu percaya bahwa engkau tahu.
2.      Kata turunan (lihat pula penjabaran di bagian Kata turunan)
3.      Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: bergeletar, dikelola.
4.      Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: bertepuk tangan, garis bawahi
5.      Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: menggarisbawahi, dilipatgandakan.
6.      Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: adipati, mancanegara.
7.      Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital, diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia.
8.      Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung, baik yang berarti tunggal (lumba-lumba, kupu-kupu), jamak (anak-anak, buku-buku), maupun yang berbentuk berubah beraturan (centang-perenang, sayur mayur).
9.      Gabungan kata atau kata majemuk
10.  Gabungan kata, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah. Contoh: duta besar, orang tua, ibu kota, sepak bola.
11.  Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian. Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya.
12.  Beberapa gabungan kata yang sudah lazim dapat ditulis serangkai. Lihat bagian Gabungan kata yang ditulis serangkai.
13.  Kata ganti (kau-, ku-, -ku, -mu, -nya) ditulis serangkai. Contoh: kumiliki, kauambil, bukumu, miliknya.
14.  Kata depan atau preposisi (di , ke, dari) ditulis terpisah, kecuali yang sudah lazim seperti kepada, daripada, keluar, kemari, dll. Contoh: di dalam, ke tengah, dari Surabaya.
15.  Artikel si dan sang ditulis terpisah. Contoh: Sang harimau marah kepada si kancil.
16.  Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai. Contoh: bacalah, siapakah, apatah.
2. Partikel -pun ditulis terpisah, kecuali yang lazim dianggap padu seperti adapun, bagaimanapun, dll. Contoh: apa pun, satu kali pun.
3. Partikel per- yang berarti “mulai”, “demi”, dan “tiap” ditulis terpisah. Contoh: per 1 April, per helai.
17.  Singkatan dan akronim. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan singkatan dan akronim.
18.  Angka dan bilangan. Lihat Wikipedia:Pedoman penulisan tanggal dan angka.
Mengenai Pemakaian Tanda Baca
        1.      Tanda Titik (.)
a.       Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
b.      Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
c.       Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
d.      Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
e.       Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.
f.       Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
g.      Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan

       2.      Tanda Koma (,)
a.       Tanda koma dipakai di antara unsur unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
b.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali.
c.       Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu.
d.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.
e.       Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
f.        Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
g.      Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
h.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
i.        Tanda koma dipakai di antara bagian bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
j.        Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
k.      Tanda koma dipakai di muka angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
l.        Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
m.    Tanda koma dapat dipakai–untuk menghindari salah baca/salah pengertian–di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

         3.      Tanda Titik Koma (;)
a.       Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.
b.      Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan.
c.       Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung.

         4.      Tanda Titik Dua (:)
a.       Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian atau
b.      Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
c.       Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
d.      Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) bab dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

        5.      Tanda Hubung (-)
a.       Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.
b.      Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.
c.       Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
d.      Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
e.       Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (a) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian frasa atau kelompok kata.



f.       Tanda hubung dipakai untuk merangkai:
         se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
         ke- dengan angka,
         angka dengan -an,
         kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital,
         kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan
         gabungan kata yang merupakan kesatuan.
g.      Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

       6.      Tanda Pisah (–)
a.       Tanda pisah dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun utama kalimat.
b.      Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
c.       Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

      7.       Tanda Tanya (?)
a.      Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
b.      Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

      8.      Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun emosi yang kuat.          
9    9.      Tanda Elipsis (…)
a.       Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus
b.      Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
     10.  Tanda Petik (” “)
a.       Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
b.      Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
c.       Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
     11.  Tanda Petik Tunggal (‘ ‘)
a.       Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain.
b.      Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan.
c.       Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing.
     12.  Tanda Kurung (( ))
a.       Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
b.      Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
c.       Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
d.      Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci urutan keterangan.
     13.   Tanda Kurung Siku ([ ])
a.       Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
b.      Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
c.       Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim atau tahun ajaran.
d.      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan ataupun.
     14.  Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Dia ‘kan sudah kusurati.                (‘kan = bukan)
Malam ‘lah tiba.                             (‘lah = telah)
1 Januari ’08                                  (’08 = 1988)

Mengenai Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, dan de l’homme par l’homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal itu, diusahakan ejaannya disesuaikan dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga agar bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Sumber :


Kamis, 12 November 2015

Karangan ilmiah (2)

PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA



Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah ini yang berjudul “Penggunaan Bahasa Indonesia Di Kalangan Remaja” dengan lancar. Shalawat dan salam kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita ke alam yang terang benderang seperti sekarang ini sehingga kita bisa merasakan nikmat iman dan islam.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang mempunyai andil dalam proses pembuatan Karya Ilmiah ini atas bantuan dan partisipasinya. 
Walaupun penyusunan karya ilmiah ini telah diusahakan dengan sebaik-baiknya, namun tentu tak luput dari kekurangan, baik dalam penyusunan maupun isi karya ilmiah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun penulis harapkan dari para pembaca demi kesempurnaan karya ilmiah ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga peyusunan karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum.


Depok ,12 November 2013

                                                                                                            




1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan kebutuhan vital manusia dalam  berkomunikasi dengan manusia atau sekelompok manusia lainnya. Sifat dasar manusia yang selalu saling membutuhkan satu dengan lainnya menjadikan bahasa menjadi kebutuhan mutlak dalam berinteraksi.
Kemampuan manusia menciptakan bahasa untuk berkomunikasi mendukung keberadaanya sebagai makhluk sosial semakin menonjolkan perbedaan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Meskipun tidak hanya bahasa yang menjadi alat komunikasi, tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang sederhana dan sangat mudah dipahami dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahasa merupakan asset yang paling berharga dimiliki oleh suatu kelompok,seperti bangsa Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Indonesia terdiri dari banyak suku dan kelompok yang memiliki bahasa dan budaya berbeda-beda, dengan adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional telah mencerminkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang majemuk.
Akan tetapi banyak yang tidak mengetahui bahasa Indonesia yang baik dan benar, khususnya remaja zaman sekarang. Dengan semakin berkembangnya bahasa gaul dan berbagai modifikasi dari bahasa asing, bahasa Indonesia yang sesungguhnya mulai luntur dan dilupakan.
Perkembangan bahasa-bahasa gaul dewasa ini sangat mengkhawatirkan. Banyak generasi muda yang tidak mengetahui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Contoh yang paling jelas terlihat dalam dunia kampus, mahasiswa acuh tak acuh terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bahkan dalam penyusunan skripsi tak banyak mahasiswa yang masih saja menggunakan penggunaan bahasa Indonesia yang salah dan tidak sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
Remaja-remaja di zaman modern ini juga banyak yang tidak mengimbangi kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar dengan berbahasa asing. Terlihat dari lebih banyak remaja mengembangkan kemampuan berbahasa asing daripada kemampuan berbahasa Indonesia yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Sehingga, dalam berbahasa remaja sulit membedakan dimana mereka harus berbicara formal atau tidak. Mereka juga kesulitan  menulis suatu karya dengan bahasa Indonesia yang  baik dan benar yang sesuai dengan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Oleh karena itu, penulis mengangkat permasalahan tersebut ke dalam karya tulis ini, dengan harapan agar remaja saat ini mengerti penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta mengembangkan kemampuan berbahasa mereka sesuai dengan Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu?
2.      Bagaimanakah penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini?
3.      Faktor apa sajakah yang menyebabkan remaja cenderung meninggalkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar?
4.      Bagaimanakah dampak yang ditimbulkan dengan ditinggalkannya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar?



1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan penelitian secara umum
1.      Mengetahui bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.      Mengetahui penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini.
3.      Mengetahui faktor yang menyebabkan remaja cenderung meninggalkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
4.      Mengetahui akibat yang ditimbulkan karena ditinggalkannya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

1.3.2  Tujuan penelitian secara khusus
Tujuan khusus penulis menyusun karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi tugas akhir semester dan syarat untuk naik ke jenjang atau semester selanjutnya pada program studi bahasa Indonesia di Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat penelitian secara teoritis
Manfaat secara teoritis adalah untuk memberi pengetahuan tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga masyarakat dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari khususnya remaja, sehingga bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap terjaga.




1.4.2  Manfaat penelitian secara praktis
1.      Bagi dunia pendidikan bahasa, dapat menambah pengetahuan siswa/mahasiswa, tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.      Karya ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam memilih bahasa yang pas dalam pergaulan sehari-hari. Sehingga masyarakat khususnya remaja dapat membedakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan bahasa prokem.  


2.1 Bahasa dan Peranannya
Bahasa adalah suatu media yang digunakan untuk menyampaikan dan memahami gagasan, pikiran, dan pendapat. Bahasa juga media komunikasi utama di dalam kehidupan manusia untuk berinteraksi (Surahman, 1994: 11).
Melalui bahasa, kehidupan berinteraksi suatu bangsa dapat dibentuk, dibina, dan dikembangkan serta dapat diturunkan pada generasi mendatang. Dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi, maka semua yang ada di sekitar manusia, dapat disesuaikan dan diungkapkan kembali kepada orang lain sebagai bahan komunikasi (Craff, 1987: 1).
Secara garis besar, bahasa dapat dilihat dari tiga sudut pandang, antara lain: sudut pandang bentuk dan sudut pandang makna (Martinet, 1987). Bentuk bahasa berhubungan dengan keadaannya dalam mendukung perannya sebagai sarana komunikasi untuk berbagai kepentingan komunikasi pemakai bahasa, dan hubungannya dengan aspek nilai dan aspek makna adalah perannya yang terkandung dalam bentuk bahasa yang fungsinya sebagai alat komunikasi ketiga unsur tersebut secara keseluruhan dimiliki oleh semua bahasa di dunia.
2.2 Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia
Sebagaimana kita ketahui bahwa sesuai dengan ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa nasional, dan sesuai dengan bunyi UUD 45, BabXV, Pasal 36 Indonesia juga dinyatakan sebagai bahasa negara. Hal ini berarti bahwa bahasa Indonesia mempunyai kedudukan baik sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Yang dimaksud dengan kedudukan bahasa ialah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya,yang dirumuskan atas dasar nilai sosialnya Sedang fungsi bahasa adalah nilai pemakaian bahasa tersebut di dalam kedudukan yang diberikan.
2.2.1 Bahasa Nasional
Sehubungan dengan kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki empat fungsi. Keempat fungsi tersebut ialah sebagai:
1.lambang identitas nasional,
2.lambang kebanggaan nasional,
3.alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang sosial budaya  dan bahasa yang berbeda-beda, dan
4.alat perhubungan antarbudaya dan daerah.

2.2.2 Bahasa Negara
Berkaitan dengan statusnya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
1.bahasa resmi negara,
2.bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan,
3.bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan
4.bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi.


BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar
Sering kita dengar ungkapan “gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar.” Terhadap ungkapan itu timbul banyak reaksi. Pertama, orang mengira bahwa kata baik dan benar dalam ungkapan itu mengandung arti atau makna yang sama atau identik. Sebenarnya tidak! Justru ungkapan itu memberikan kesempatan dan hak kepada pemakai bahasa untuk menggunakan bahasa secara bebas sesuai dengan keinginannya dan kemampuannya dalam berbahasa.mari kita tinjau arti kedua kata itu.
Berbahasa yang baik ialah berbahasa sesuai dengan “lingkungan” bahasa itu digunakan. Dalam hal ini beberapa faktor menjadi penentu. Pertama, orang yang berbicara; kedua orang yang diajak berbicara; ketiga, situasi pembicaraan apakah situasi itu formal atau nonforml; keempat, masalah atau topik pembicaraan.
Sedangkan bahasa yang benar ialah bahasa yang sesuai dengan kaidahnya, aturannya, bentuk, strukturnya. Kalau berbahasa Indonesia baku harus seperti bahasa yang kaidahya tertulis dalam buku-buku tata bahasa. Sebaliknya, jika menggunakan salah satu dialek. Dialek Jakarta misalnya, harus betul-betul bahasa Jakarta seperti yang digunakan oleh penduduk asli Jakarta. Itulah yang dimaksud dengan kata benar.

3.1.1 Bahasa Indonesia baku 
Bahasa Indonesia yang baku ialah bahasa Indonesia yang digunakan orang-orang terdidik dan yang dipakai sebagai tolak bandingan penggunaan bahasa yang dianggap benar. Ragam bahasa Indonesia yang baku ini biasanya ditandai oleh adanya sifat kemantapan dinamis dan ciri kecendekiaan.Yang dimaksud dengan kemantapan dinamis ini ialah bahwa bahasa tersebut selalu mengikuti kaidah atau aturan yang tetap dan mantap namun terbuka untuk menerima perubahan yang bersistem. Ciri kecendekiaan bahasa baku dapat dilihat dari kemampuannya dalam mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di berbagai bidang kehidupan dan ilmu pengetahuan. Bahasa Indonesia baku dipakai dalam:
1.komunikasi resmi, seperti dalam surat-menyurat resmi, peraturan pengumuman  instansi resmi atau undang-undang;
2.tulisan ilmiah, seperti laporan penelitian, makalah, skripsi, disertasi dan buku-buku     ilmu pengetahuan
3.pembicaraan di muka umum, seperti dalam khotbah, ceramah, kuliah pidato; dan
4.pembicaraan dengan orang yang dihormati atau yang belum dikenal.

3.2 Dampak Ditinggalkannya Penggunaan Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar
Meninggalkan suatu kebiasaan yang telah menjadi tradisi akan berakibat besar dalam kelangsungan hidup masyarakat tersebut. Begitu juga yang akan terjadi pada bahasa Indonsia yang disempurnakan jika semakin ditinggalkan oleh masyarakatnya.
Dampak buruk yang dapat dirasakan langsung adalah menurunnya nilai kesopanan remaja ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Sedangkan dampak tidak langsungnya adalah merusak bahasa nasional itu sendiri. Mungkin, beberapa tahun kedepan masih bisa menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun bagaimana dengan lima puluh tahun yang akan datang? Apakah Bahasa Indonesia masih bisa bertahan? Atau akan hilang ditelan ‘bahasa gaul’?
      Hal ini menjadi tugas kita sebagai remaja sekaligus pelajar yang masih peduli dengan Bahasa Indonesia. Kita tidak dapat memungkiri bahwa ‘bahasa gaul’ telah mengikis dan merusak Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, marilah kita menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia.
      Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan  membiasakan diri menggunakan Bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik mulai dari diri kita sendiri, karena hal besar berawal dari hal kecil. Setelah itu marilah kita mengajak teman-teman dan orang-orang di sekitar kita untuk menggunakan Bahasa Indonesiadengan benar. Hal yang tak kalah penting adalah dengan tetap memberikan pelajaran Bahasa Indonesia dengan metode pembelajaran yang menarik kepada siswa di sekolahagar siswa sadar akan pentingnya Bahasa Indonesia dan mampu untuk turut melestarikan bahasa nasional ini. Dengan demikian, niscaya Bahasa Indonesia akan tetap terjaga keberadaannya sampai kapanpun.
  

4.1 Kesimpulan
Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini hampir sudah tidak ada yang menggunakannya dengan benar. Sedikit sekali remaja yang menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Selang waktu yang berjalan, pengguna bahasa Indonesia dengan benar telah di geser dengan bahasa-bahasa yang tidak di kenal. Dikarenakan datangnya penduduk luar negeri ke dalam negeri, yang membaur bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Bahasa yang digunakan remaja pada saat ini diantaranya adalah bahasa prokem atau bahasa gaul, bahasa asing dan bahasa daerah. Bahasa indonesia tidak digunakan sebagaimana mestinya dikarenakan beberapa faktor antara lain faktor dari luar dan faktor dari dalam. Penggunaan bahasa gaul, asing maupun bahasa daerah dikalangan remaja menimbulkan berbagai dampak, baik itu dampak positif maupun dampak negatif.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat para remaja kita agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah dengan tindakan yang nyata dari diri sendiri, masyarakan dan pemerintah. Karena itu merupakan elemen penting untuk perubahan agar remaja, masyarakat dan pemerintah indonesia memiliki rasa bangga akan bahasanya sendiri. Bahasa Indonesia merupakan alat pemersatu bangsa, sebagai identitas bangsa Indonesia dan sebagai lambang kebanggaan nasional.

4.2 Saran
Karena remaja merupakan agen perubahan, sudah seharusnya kita sebagai remaja saat ini menggunakan bahasa Indonesia yang benar sesuai dengan situasi dan kondisi dan sesuai dengan kaidah yang telah disempurnakan. Dimana kita sedang berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. Karena apa, karena bahasa Indonesia merupakan identitas kebanggaan bangsa Indonesia dan merupaka alat pemersatu. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempertahankan bahasa Indonesia yang baik dan benar :
1.      Para remaja dan anak muda harus biasa menggunakan bahasa indonesia yang baku sesuai dengan kaidahnya dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Dalam forum resmi hendaknya masyarakat khususnya para remaja dan anak muda tetap menggunakan tatanan bahasa indonesia yang baku.
3.      Media-media cetak atau elektronik harus tetap menggunakana tatanan Bahasa Indonesia yang baku dalam menyajikan informasi kepada masyarakat.
4.      Menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para generasi muda, bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus diutamakan penggunaanya.
5.      Meningkatkan pengajaran Bahasa Indonsia di sekolah dan perguruan tinggi dengan tugas praktik dialog atau monolog seperti dalam bermain drama, penulisaan artikel makalah, dan lain sebagainya.

Anwar, Khaidir.1995.Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
Badudu, J.S.1994.Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Chaer, Abdul. 1993.Pembakuan Bahasa Indonesia.Jakarta:PT. Rineka Cipta.

Charlie, Lie.1999.Bahasa Indonesia yang Baik dan Gimana Gitu.Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Rahardi, R. Kunjana. 2000.Imperatif dalam Bahasa Indonesia.Yogyakarta:Duta Wacana University Press.
Rahmatarifin,2011.Dampak positif dan negatif penggunaan bahasa gaul dan asing.dalam   Rahmatarifin.wordpress.com.

Salliyanti.2003. Bahasa Prokem Di Kalangan Remaja. Dalam Salliyanti.blogspot.com.

Samsuri.1985.Tata Kalimat Bahasa Indonesia.Jakarta: PT Sastra Hudaya.
Sugihastuti.2003.Bahasa Indonesia Dari Awam Mahasiswa sampai Wartawan. Yogyakarta:Gama Media.

Witriani.2012. English Made Simple.Yogyakarta:SUKA Press.

Sumber :

http://zaifaayu29.blogspot.com/2014/01/contoh-karya-ilmiah-bahasa-indonesia_8.html